AJARAN TASAWUF ALA KH. KHOLIL BANGKALAN

Kiai Khalil dalam usahanya untuk mendorong lahirnya organisasi NU yang kemudian diklaim sebagai salah satu organisasi yang berbasis sunni di Indonesia. Namun hingga beliau meninggal pada 29 Ramadhan 1343 H (1922 M), organisasi yang sangat diharapkan oleh beliau belum terbentuk, NU baru lahir setelah beliau wafat, tepatnya 16 Rajab 1344 H. atau pada tanggal 31 Desember 1926 M.[1] Kini NU telah menjadi organisasi Islam yang sangat besar bahkan terbesar di Indonesia.

Kalimat itu juga kemudian disinyalir merupakan salah satu indikator bahwa Kiai Khalil merupakan seorang Ulama yang memilki kemampuan mukasyafah karena beliau telah mencapai tingkatan ma’rifatullah. Sebab, peristiwa seperti yang telah diceritakan di atas kemudian menjadi sebuah cikal bakal terbentuknya organisasi NU dan itu sudah diketahui oleh beliau sebelum NU terbentuk. Kemampuan beliau menerawang pada sebuah kejadian yang belum terjadi inilah (mukâsyafah) yang kemudian menjadi alasan bagi penulis untuk mengadakan penelitian tentang keberadaan beliau dari segi kema’rifatanya. Mulai dari proses beliau sebagai seorang sâlik, hingga beliau memperoleh tingkatan ma’rifat.
Kiai Khalil lahir di Martapuri Kabupaten Bangkalan pada tanggal 11 Jumadil Akhir 1235 H,[2] dan wafat pada tanggal 29 Ramadhan 1343 H. (1925 M).[3] Semasa hidup, beliau mengenyam pendidikan di pondok pesantren, seperti di Langitan Tuban, Bangil dan Keboncandi Pasuruan, juga beliau pernah mengenyam pendidikan di Makkah al-Mukarramah. Selama menjalani masa pendidikannya, baik di Indonesia maupun di Makkah al-Mukarramah, beliau dikenal tekun, ulet dan juga cerdas. Sehingga tidak heran jika beliau selama nyantri di Indonesia sudah mampu untuk membiayai sendiri hingga sampai pembiayaan pergi ke Makkah. Di Makkah, beliau menekuni berbagai macam bidang keagamaan, baik yang bersifat eksoterik (ilmu lahiriyah) maupun esoterik (ilmu batiniyah). Ketekunanya dalam mempelajari ilmu keagamaan, terutama semenjak belajar di Makkah al-mukarramah membuatnya memiliki berbagai macam karamah, yakni suatu kekuatan di luar kebiasaan manusia pada umumnya yang dimiliki oleh seseorang karena ketakwaannya terhadap sang pencipta, Allah SWT. Predikat waliullâh pun disandangnya, dan derajat sufi serta dunia mistik ada pada diri beliau. Tak heran ketika suatu saat di Masjidil Haram terjadi perdebatan antara beberapa ulama untuk mamutuskan hukumnya kepiting dan rajungan; apakah haram atau halal bila dimakan manusia. Dalam debat itu para ulama tidak menemukan penyelesaian.
Dalam suasana yang menegangkan itulah Kiai Khalil memecahkan kesunyian dan meminta diri untuk menyampaikan sesuatu. Menurutnya kesulitan mencari pemecahan masalah yang diperdebatkan tadi, karena para ulama belum melihat secara langsung apa itu binatang yang bernama kepiting dan juga rajungan. Para ulama pun membenarkan perkataan Kiai Khalil. Namun mereka terkejut dan terheran-heran ketika Kiai Khalil mempertontonkan secara langsung dihadapan para ulama sosok kepiting dan rajungan itu dalam kondisi masih hidup dan segar seakan baru diambil dari laut.[4]
Sepulang dari Makkah Al-Mukarramah, beliau mendirikan pesantren di desa Cengkebun, sekitar 1 kilometer arah Barat Laut dari desa kelahirannya di Senenan Bangkalan. Hari demi hari santripun berdatangan untuk belajar kepada beliau. Namun setelah beliau menjadi mertua dari Kiai Muntaha, suami Siti Khatimah putrinya, beliau menyerahkan lembaga tersebut untuk dilanjutkan oleh menantunya itu. Kemudian beliau pindah dan mendirikan pondok pesantren lagi di desa Demangan, 200 meter arah barat alun-alun kota Bangkalan.[5] Di pesantren beliau yang baru, santri pun banyak berdatangan tidak hanya dari desa tetangga, melainkan juga dari pulau Jawa seperti Kiai Hasyim Asy’ari Jombang.[6]
Kiai Khalil, yang sudah menghafal Al-Quran 30 Juz sejak di Indonesia itu, dikenal sebagai ahli fiqih, ilmu alat (Gramatikal Bahasa Arab, pen.) dan tarekat. Beliau juga terkenal dengan kemampuan waskita nya, weruh sak durunge winarah (tahu sebelum terjadi/ Mukâsyafah). Dalam hal yang terakhir ini nama Kiai Khalil lebih dikenal. Jejak dan langkah Kiai Khalil kini tetap menjadi monumen yang mengalir hidup melalui perjuangan penerus dan pengikutnya. Di Indonesia terdapat kurang lebih 6.000 pesantren lebih yang terus berkhidmah dalam kehidupan bangsa dan agama. Sebagian besar pengasuh pesantren itu mempunyai sanad (persambungan) dengan beliau. Muhammad Hasyim Asy’ari (1871-1947), Kiai Abdul Wahab Hasbullah (1888-1971) Kiai Bisri Syamsuri dan kiai-kiai besar lainnya di Jawa. Padahal mereka semua adalah murid Kiai Khalil. Artinya kebanyakan kiai yang ada sekarang ini mempunyai sanad sampai ke Kiai Khalil Bangkalan, muara yang penuh misteri.[7]
Sebagai seorang ulama besar dan kharismatik, Kiai khalil juga ikut mewarnai dalam proses Islamisasi di pulau Madura. Beliau juga seorang pejuang kemerdekaan dalam melawan penjajahan kolonial waktu itu. Perjuangan dan pergerakan beliau dalam upaya melawan penjajah tidak dengan pergerakan masa yang anarkis, namun beliau menggunakan pendekatan diplomatik dengan kaum penjajah. Cara yang ditempuh oleh Kiai Khalil untuk menarik simpati rakyat Bangkalan dalam melawan penjajah, ialah berbaur dengan masyarakat. Selain melaksanakan visi dan misi utamanya, yaitu menyebarkan agama Islam yang tidak beliau lakukan didalam pesantrennya saja, namun juga turun ke desa-desa dan berusaha untuk menyesuaikan diri dengan kebiasaan masyarakat setempat. Seperti yang terlihat dari jejak langkah peninggalan beliau di desa Telaga Biru, di desa ini mata pencaharian masyarakatnya adalah melaut, sebagai nelayan atau sebagai saudagar dan pedagang. Di desa itu proses pergaulan yang dibangun Kiai Khalil adalah dengan cara melakukan proses kebersamaan, beradaptasi dengan para masyarakat pesisir setempat, sampai pada akhirnya Kiai Khalil membuat sebuah perahu layar dengan tujuan perdagangan antar pulau.[8]
Beliau mengajarkan nilai-nilai sosial yang baik dan pendalaman aqidah Islamiyah. Sebagai penganut faham sunni, beliau senantiasa memberikan pengajaran dibidang keagamaan melalui rujukan kitab-kitab madzhab Syafi’iyyah. Hal ini beliau lakukan karena latar belakang dari masyarakatnya adalah Syafi’iyah termasuk ajaran yang ditanamkan oleh ayah beliau sendiri sebagai guru pertamanya sebelum berpetualang mencari ilmu pengetahuan keluar Madura.[9]
Kekaromahan Kiai Khalil Bangkalan yang dilaluinya lewat sulûk al tasawuf kini hanya sebuah cerita dari mulut kemulut yang nantinya akan berakhir dengan hilangnya mutiara kisah tentang beliau. Walaupun ada beberapa buku yang memuat kisah – kisah tentang beliau, seperti Surat kepada Anjing Hitam, Biografi dan Karomah Kiai Khalil, karangan Saifur Rachman, terbitan pustaka Ciganjur, juga buku dengan judul Syaichona Cholil Bangkalan, Ulama Legendaris dari Madura, karangan Mokh. Syaiful Bahri, terbitan Cipta Pusaka Utama, Pasuruan. Namun setelah penulis teliti dan pelajari ternyata tidak sepenuhnya memuat dan membahas tentang hal-hal yang berkaitan dengan dunia kema’rifatan beliau mulai beliau menapaki tangga-tangga sebagai perambah jalan tasawwuf hingga beliau sampai pada tingkatan ma’rifat/ waliullâh.
Sejarah perjalanan dan pemikiran murid-murid Kiai Khalil sudah terdokumentasikan, namun sejarah perjalanan, apalagi pemikiran dan ajaran Kiai Khalil sendiri, yang nota benenya adalah guru para deklarator NU dan kiai-kiai besar lainnya di Jawa dan luar jawa sekalipun, sangatlah minim. Maka dari itu untuk memperkuat bukti literatur dalam penelitian ini, penulis juga melakukan beberapa wawancara dengan sumber-sumber yang dapat dipertanggung jawabkan, antara lain adalah KH. Fakhrillah Sahal, beliau merupakan cicit dari Kiai Khalil, juga KH. Abd. Wahab Jazuli, seorang kiai sekaligus mursyid tariqat Syadziliyah di Bangkalan, Ust. M. Toyyib Sulaiman sesepuh pengurus pondok pesantren Sumurnangka Kwanyar Bangkalan, dan lainnya.
Keberadaan Kiai Khalil sebagai seorang sufi, telah banyak meninggalkan kenangan yang hingga kini masih terasa di tengah-tengah masyarakat. Ajaran-ajaran beliau masih banyak diikuti oleh para pengikutnya secara turun temurun hingga seperti sekarang ini.

ASAS – ASAS HUKUM DI INDONESIA

ASAS – ASAS HUKUM DI INDONESIA

• Nullum crimen nulla poena sine legeTidak ada kejahatan tanpa peraturan perundang – undangan yang mengaturnya

• Lex superiori derogat lege prioriPeraturan yang lebih tinggi mengesampingkan peraturan yang lebih rendah , lihatdalam pasal 7 UU No.10 Tahun 2004

• Lex posteriori derogat lege prioriPeraturan yang terbaru mengesampingkan peraturan yang sebelumnya . pahami juga lexprospicit , non res cipit

.• Lex specialis derogate lege generaliPeraturan yang lebih khusus mengesampingkan peraturan yang bersifat lebih umum ,lihat Pasal 1 KUHD.

• Res judicata pro veritate habeteurPutusan hakim dianggap benar sampai ada putusan hakim lain yang mengoreksinya

• Lex dura set tamen scriptaUndang – undang bersifat memaksa , sehingga tidak dapat diganggu gugat

• Die normatieven kraft des faktischenPerbuatan yang dilakukan berulang kali memiliki kekuatan normative , lihat Pasal28 UU No.4 tahun 2004Analisis – analisis :

• Nullum crimen nulla poena sine legeTidak ada kejahatan tanpa peraturan perundang – undangan yang mengaturnya? Bahwa semua kejahatan yang terjadi diindonesia adalah yang melanggar undang –undang . karena pernyataan diatas menyatakan bahwa tidak ada kejahatan tanpaperaturan perundang – undangan yang mengaturnya,jadi suatu tindak kejahatan dikatakan sebagai perbuatan melanggar hukum apabilamelanggar undang – undang yang telah ditetapkan oleh pemerintah

.• Lex superiori derogat lege prioriPeraturan yang lebih tinggi mengesampingkan peraturan yang lebih rendah , lihatdalam pasal 7 UU No.10 Tahun 2004

• Lex posteriori derogat lege prioriPeraturan yang terbaru mengesampingkan peraturan yang sebelumnya . pahami juga lexprospicit , non res cipit

.• Lex specialis derogate lege generaliPeraturan yang lebih khusus mengesampingkan peraturan yang bersifat lebih umum ,lihat Pasal 1 KUHD.

• Res judicata pro veritate habeteurPutusan hakim dianggap benar sampai ada putusan hakim lain yang mengoreksinya

• Lex dura set tamen scriptaUndang – undang bersifat memaksa , sehingga tidak dapat diganggu gugat

• Die normatieven kraft des faktischenPerbuatan yang dilakukan berulang kali memiliki kekuatan normative , lihat Pasal28 UU No.4

Pengertian NEGARA HUKUM

Pengertian negara hukum secara sederhana adalah negara yang penyelenggaraan kekuasaan pemerintahannya didasarkan atas hukum. Dalam negara hukum, kekuasaan menjalankan pemerintahan berdasarkan kedaulatan hukum (supremasi hukum) dan bertujuan untuk menjalankan ketertiban hukum (Mustafa Kamal Pasha, dalam Dwi Winarno, 2006).

Dengan demikian dalam negara hukum, kekuasaan negara berdasar atas hukum, bukan kekuasaan belaka serta pemerintahan negara berdasar pada konstitusi yang berpaham konstitusionalisme, tanpa hal tersebut sulit disebut sebagai negara hukum. Supremasi hukum harus mencakup tiga ide dasar hukum, yakni keadilan, kemanfaatan, dan kepastian. Oleh karena itu di negara hukum, hukum harus tidak boleh mengabaikan “rasa keadilan masyarakat”.

Negara-negara komunis atau negara otoriter memiliki konstitusi tetapi menolak gagasan tentang konstitusionalisme sehingga tidak dapat dikatakan sebagai negara hukum dalam arti sesungguhnya. Jimly Asshiddiqie (dalam Dwi Winarno, 2006) menyatakan bahwa negara hukum adalah unik, sebab negara hendak dipahami sebagai suatu konsep hukum. Dikatakan sebagai konsep yang unik karena tidak ada konsep lain. Dalam negara hukum nantinya akan terdapat satu kesatuan sistem hukum yang berpuncak pada konstitusi atau undang-undang dasar.

Negara tidak campur tangan secara banyak terhadap urusan dan kepentingan warga negara. Namun seiring perkembangan zaman, negara hukum formil berkembang menjadi negara hukum materiil yang berarti negara yang pemerintahannya memiliki keleluasaan untuk turut campur tangan dalam urusan warga dengan dasar bahwa pemerintah ikut bertanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyat. Negara bersifat aktif dan mandiri dalam upaya membangun kesejahteraan rakyat.

2. CIRI-CIRI NEGARA HUKUM

Negara hukum merupakan terjemahan dari istilah Rechtsstaat atau Rule of Law. Friedrich Julius Stahl dari kalangan ahli hukum Eropa Kontinental memberikan ciri-ciri Rechtsstaat sebagai berikut.
1) Hak asasi manusia
2) Pemisahan atau pembagian kekuasaan untuk menjamin hak asasi manusia yang biasa dikenal sebagai Trias Politika
3) Pemerintahan berdasarkan peraturan-peraturan
4) Peradilan administrasi dalam perselisihan

Adapun AV Dicey dari kalangan ahli hukum Anglo Saxon memberi ciri-ciri Rule of Law sebagai berikut.
1) Supremasi hukum, dalam arti tidak boleh ada kesewenang-wenangan, sehingga seseorang hanya boleh dihukum jika melanggar hukum.
2) Kedudukan yang sama di depan hukum, baik bagi rakyat biasa maupun bagi pejabat
3) Terjaminnya hak-hak manusia dalam undang-undang atau keputusan pengadilan

Ciri-ciri Rechtsstaat atau Rule of Law di atas masih dipengaruhi oleh konsep negara hukum formil atau negara hukum dalam arti sempit. Dari pencirian di atas terlihat bahwa peranan pemerintah hanya sedikit karena ada dalil bahwa “Pemerintah yang sedikit adalah pemerintah yang baik”. Dengan munculnya konsep negara hukum materiil pada abad ke-20 maka perumusan ciri-ciri negara hukum sebagaimana dikemukakan oleh Stahl dan Dicey di atas kemudian ditinjau lagi sehingga dapat menggambarkan perluasan tugas pemerintahan yang tidak boleh lagi bersifat pasif. Sebuah komisi para juris yang tergabung dalam International Comunition of Jurits pada konferensi Bangkok tahun 1965 merumuskan ciri-ciri pemerintahan yang demokratis di bawah Rule of Law yang dinamis. Ciri-ciri tersebut adalah
1) Perlindungan konstitusional, dalam arti bahwa konstitusi selai daripada menjamin hak-hak individu harus menentukan pula cara prosedural untuk memperoleh perlindungan atas hak-hak yang dijamin;
2) Badan Kehakiman yang bebas dan tidak memihak;
3) Kebebasan untuk menyatakan pendapat;
4) Pemilihan umum yang bebas;
5) Kebebasan untuk berorganisasi dan beroposisi;
6) Pendidikan civics (kewarganegaraan)

Disamping perumusan ciri-ciri negara hukum seperti di atas, ada pula berbagai pendapat mengenai ciri-ciri negara hukum yang dikemukakan oleh para ahli. Menurut Montesquieu, negara yang paling baik adalah negara hukum, sebab di dalam konstitusi di banyak negara terkandung tiga inti pokok, yaitu :

1) Perlindungan HAM
2) Ditetapkan ketatanegaraan suatu negara; dan
3) Membatasi kekuasaan dan wewenang organ-organ Negara
Prof. Sudargo Gautama mengemukakan 3(tiga) ciri atau unsur dari negara hukum, yakni sebagai berikut.
1) Terdapat pembatasan kekuasaan negara terhadap perorangan, maksudnya negara tidak dapat bertindak sewenang-wenang. Tindakan negara dibatasi oleh hukum, individual mempunyai hak terhadap negara atau rakyat mempunyai hak terhadap penguasa.
2) Asas legalitas
Setiap tindakan negara harus berdasarkan hukum yang telah diadakan terlebih dahulu yang harus ditaati juga oleh pemerintah atau aparaturnya.
3) Pemisahan kekuasaan

Agar hak-hak asasi betul-betul terlindungi, diadakan pemisahan kekuasaan yaitu badan yang membuat peraturan perundang-undangan, melaksanakan dan badan yang mengadilin harus terpisah satu sama lain tidak berada dalam satu tangan.
Frans Magnis Suseno (1997) mengemukakan adanya 5 (lima) ciri negara hukum sebagai salah satu ciri hakiki negara demokrasi. Kelima ciri negara hukum tersebut adalah sebagai berikut.
1) Fungsi kenegaraan dijalankan oleh lembaga yang bersangkutan sesuai dengan ketetapan sebuah undang-undang dasar.
2) Undang-undang dasar menjamin hak asasi manusia yang paling penting. Karena tanpa jaminan tersebut, hukum akan menjadi sarana penindasan. Jaminan hak asasi manusia memastikan bahwa pemerintah tidak dapat menyalahgunakan hukum untuk tindakan yang tidak adil atau tercela
3) Badan-badan negara menjalankan kekuasaan masing-masing selalu dan hanya taat pada dasar hukum yang berlaku.
4) Terhadap tindakan badan negara, masyarakat dapat mengadu ke pengadilan dan putusan pengadilan dilaksanakan oleh badan negara.
5) Badan kehakiman bebas dan tidak memihak.
Mustafa Kamal Pasha (2003) menyatakan adanya tiga ciri khas negara hukum, yaitu
1) Pengakuan dan perlindungan terhadap hak asasi manusia

Di dalam ciri ini terkandung ketentuan bahwa di dalam suatu negara hukum dijamin adanya perlindungan hak asasi manusia berdasarkan ketentuan hukum. Jaminan itu umumnya dituangkan dalam konstitusi negara bukan pada peraturan perundang-undangan di bawah konstitusi negara. Undang-undang dasar negara berisi ketentuan-ketentuan tentang hak asasi manusia. Inilah salah satu gagasan konstitusionalisme
2) Peradilan yang bebas dari pengaruh kekuasaan lain dan tidak memihak.

Dalam ciri ini terkandung ketentuan bahwa pengadilan sebagai lembaga peradilan dan badan kehakiman harus benar-benar independen dalam membuat putusan hukum, tidak dipengaruhi oleh kekuasaan lain terutama kekuasaan eksekutif. Dengan wewenang sebagai lembaga yang mandiri terbebas dari kekuasaan lain, diharapkan negara dapat menegakkan kebenaran dan keadilan.
3) Legalitas dalam arti hukum dalam segala bentuknya

Bahwa segala tindakan penyelenggara negara maupun warga negara dibenarkan oleh kaidah hukum yang berlaku serta dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.

3. INDONESIA SEBAGAI NEGARA HUKUM

Dasar pijakan bahwa negara Indonesia adalah negara hukum tertuang pada Pasal 1 ayat 3 UUD 1945, yang menyebutkan bahwa “Negara Indonesia adalah Negara Hukum”. Dimasukkannya ketentuan ini ke dalam bagian pasal UUD 1945 menunjukkan semakin kuatnya dasar hukum serta menjadi amanat negara, bahwa negara Indonesia adalah dan harus merupakan negara hukum.

Sebelumnya, landasan negara hukum Indonesia ditemukan dalam bagian Penjelasan Umum UUD 1945 tentang Sistem Pemerintahan Negara, yaitu sebagai berikut.
1) Indonesia adalah negara yang berdasar atas hukum (Rechsstaat). Negara Indonesia berdasar atas Hukum (Rechsstaat), tidak berdasar atas kekuasaan belaka (Machtsstaat).
2) Sistem Konstitusional. Pemerintah berdasar atas sistem konstitusi (hukum dasar), tidak bersifat absolutisme (kekuasaan yang tidak terbatas).

Berdasarkan perumusan di atas, negara Indonesia memakai sistem Rechsstaat yang kemungkinan dipengaruhi oleh konsep hukum Belanda yang termasuk dalam wilayah Eropa Kontinental.

Konsepsi negara hukum Indonesia dapat dimasukkan negara hukum materiil, yang dapat dilihat pada Pembukaan UUD 1945 Alenia IV. Dasar lain yang dapat dijadikan landasan bahwa negara Indonesia adalah negara hukum yakni pada Bab XIV tentang Perekonomian Nagara dan Kesejahteraan Sosial Pasal 33 dan 34 UUD 1945, yang menegaskan bahwa negara turut aktif dan bertanggung jawab atas perekonomian negara dan kesejahteraan rakyat.
Negara Hukum Indonesia menurut UUD 1945 mengandung prinsip-prinsip sebagai berikut.
1. Norma hukumnya bersumber pada Pancasila sebagai hukum dasar nasional;
2. Sistem yang digunakan adalah Sistem Konstitusi;
3. Kedaulatan rakyat atau Prinsip Demokrasi;
4. Prinsip kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan (Pasal 27 (1) UUD 1945);
5. Adanya organ pembentuk undang-undang (Presiden dan DPR);
6. Sistem pemerintahannya adalah Presidensiil;
7. Kekuasaan kehakiman yang bebas dari kekuasaan lain (eksekutif);
8. Hukum bertujuan untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial; dan
9. Adanya jaminan akan hak asasi dan kewajiban dasar manusia (Pasal 28 A-J UUD 1945).

4. HUBUNGAN NEGARA HUKUM DENGAN DEMOKRASI

Hubungan antara negara hukum dengan demokrasi dapat dinyatakan bahwa negara demokrasi pada dasarnya adalah negara hukum. Namun, negara hukum belum tentu negara demokrasi. Negara hukum hanyalah satu ciri dari negara demokrasi. Franz Magnis Suseno (dalam Dwi Winarno, 2006) menyatakan adanya 5 gugus ciri hakiki dari negara demokrasi. Kelima ciri tersebut adalah :

1) negara hukum;

2) pemerintahan di bawah kontrol nyata masyarakat;

3) pemilihan umum yang bebas;

4) prinsip mayoritas; dan

5) adanya jaminan terhadap hak-hak demokratis.

Berdasarkan sejarah, tumbuhnya negara hukum, baik formal maupun materiil bermula dari gagasan demokrasi konstitusional, yaitu negara demokrasi yang berdasar atas konstitusi. Gagasan demokrasi konstitusional abad ke-19 menghasilkan negara hukum klasik (formil) dan gagasan demokrasi konstitusional abad ke-20 menghasilkan Rule of Law yang dinamis (negara hukum materiil)

 

 

 

antara cinta dan nafsu

Dizaman modern ini, semua manusia di manjakan dengan fasilitas yang di hasilkan oleh pikiran mereka sendiri, yaitu teknologi. Dengan teknologi manusia bisa dengan mudah tahu perkembangan dunia mulai dari kutub utara hingga kutub selatan. Namun dengan adanya teknologi ini manusia juga harus berkiblat kepada negara-negara barat, karena mereka lah yang banyak menciptakan teknologi itu. Sehingga mau tidak mau banyak anak muda yang sudah terkontaminasi dengan kebudayaan barat terutama kebudayaan barat yang terkenal di seluruh dunia, iyaa,,, kebudaayn free seks. Kebudayaan inilah yang sekarang tenar di negara Indonesia, hampir setiap hari kita temukan berita tentang pemerkosaan, pencabulan, dan lain sebagainya. Yang lebih menyedihkan lagi adalah pemerkosaan atau pencabulan yang dilakukan oleh saudara atau orang tuanya sendiri. Hal ini terjedi di karenakan banyak faktor yang salah satunya adalah televisi.

Dengan televisi seorang anak akan meniru apa yang di lakukan oleh idolanya, sehingga sekarang banyak remaja yang berpakaian seperti orang-orang barat. tidak bisa di pungkiri kalau pakaian yang terbuka itu mampu mengundang nafsu dari kaum lelaki yang melihatnya, tak terkecuali dengan orang tua mereka sendiri. Hal ini terbukti dengan kasus-kasus pemerkosaan yang dilakukan oleh seorang ayah kepada anaknya. mereka (para ayah) beralasan karena cinta melakukan hal yang sangat keji itu terhadap anaknya. Yang perlu dipertanyakan disini adalah apakah karena cinta itu ayah tega menghancurkan masa depan anaknya demi kepuasan sesaat???

Cinta itu indah, dan karena rasa cinta terhadap lain jenis atau orang lain apappun akan kita lakukan demi kebahagiaannya. Oleh karena itu, orang mencintai anaknya/pacarnya dengan tulus tidak mungkin tega melakukan pencabulan itu. Meskipun hal itu di lakukan karena rasa suka sama suka, kalau akhirnya kan merusak masa depan anak/pacarnya sendiri. Kalau memang cinta, jaga lah baik-baik orang yang dicintai. Menjaga itu tidak harus setiap hari bersama, menjaga bisa dilakukan dengan menasehati memberi motivasi, dan menyemangati kalau lagi terpuruk. Sehingga dengan demikian pencabulan atau pemerkosaan tidak terjadi antara orang tua, pacar, atau sahabat kepada orang terdekatnya.

Rustriningsih belum tentukan dukungan di Pilgub Jateng

Wakil gubernur Jateng, Rustriningsih menyerahkan kepada masyarakat semua anggapan kedekatannya dengan Gubernur Bibit Waluyo yang juga mencalonkan kembali menjadi cagub Jateng di Pilgub 26 Mei mendatang. Sampai kini, Rustri belum menentukan siapa cagub yang didukungnya.

Sampai H-5 pilgub, Rustri masih belum secara terang-terangan mendukung salah satu pasangan cagub dan cawagub dalam Pilgub Jateng mendatang. Termasuk bagaimana arahan Rustri kepada para pendukung dan simpatisannya.

“Saya kira sudah jauh-jauh hari saya sampaikan, mereka bebas mengekspresikan dan menyikapi tanggal 26 mendatang. Dan saya harap dan percaya pendukung saya sudah sangat cerdas, ” terang Rustri usai mengisi acara dialog politik di Unnes, Selasa (21/5).

Menanggapi dugaan Rustri yang pada akhir jelang pencoblosan semakin hangat dengan cagub nomor 2, Bibit Waluyo, ia menjawab kedekatan tersebut sebatas dalam lingkup dirinya sebagai wagub Jateng.

“Minggu kemarin di Kebumen, saya baru dikabari kalau pak Gubernur di Pendopo dan di Pantai Ayah. Kami sama-sama sampaikan kepada masyarakat, jarang-jarang juga gubernur dan wakil gubernur bersama dalam satu acara, dan itu kesempatan langka, ” terang mantan Bupati Kebumen dua periode itu.

Diketahui sebelumnya, Rustri dan Bibit bersama tampil mesra saat melakukan kunjungan ke Kabupaten Kebumen, Minggu (19/5) malam. Rustri yang kapasitasnya sebagai Pelaksana Harian (Plh) Gubernur Jateng duduk bersama dengan Bibit Waluyo yang masih sebagai calon gubernur Jateng.

Mereka berdua melihat pergelaran wayang kulit dengan lakon “Bima Bangkit” dengan dalang Ki Mantep Sudarsono yang digelar oleh Stikes Muhammadiyah Gombong di Alun-alun Kebumen.

Momentum menarik, setelah menyerahkan tokoh wayang Bima kepada Ki Mantep, Rustri bersama Bibit Waluyo, Bupati Kebumen Buyar Winarso dan Ki Mantep Sudarsono foto bersama sembari mengepalkan tangan.

Rustri pun tidak memberikan penjelasan, arti “kemesraan” tersebut. Seperti sebelumnya, dia berharap pelaksanaan Pilgub Jateng berkualitas, aman, lancar penuh persaudaraan serta tidak terjadi saling fitnah dan saling serang.

Tambahnya, mengenai pertemuan Bibit dengan Rustri yang terlihat kompak di Kebumen itu apakah sebagai bentuk dukungan ataukah hanya sebagai kekompakan di masa akhir jabatan, Rustri menyerahkan kepada masyarakat.

“Saya serahkan kepada masyarakat untuk mempersepsikan. Ini bagian yang harus dikawal. Tapi saya kira pimpinan (gubernur dan wakil gubernur) harus kompak,” jelasnya.

Sejauh ini, Rustriningsih tidak terlihat pada acara kampanye terbuka pasangan nomor 3 yang diusung PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo dan Heru Sudjatmoko. Ia pun mengaku kalau dirinya tak diundang di acara kampanye yang juga hadir, Ketua Umum Megawati Soekarnoputri di Semarang itu.

“Saya tidak diundang. Dan saya tidak ambil cuti kampanye. Karena saya sibuk dalam tugas dinas sebagai wakil gubernur mendampingi pak Bibit Waluyo, dan itu sebagai tugas rekomendasi partai juga,” pungkasnya.

اطلبوا العلم من المهد الى اللحد

Tebuireng.org – Dalam Kitab-nya Adabul ‘Alim wal Muta’allim, KH. M. Hasyim Asy’ari merangkum etika-etika santri atau pelajar sebagaimana berikut:

Pertama, seorang santri hendaknya membersihkan hatinya dari segala hal yang dapat mengotorinya seperti dendam, dengki, keyakinan yang sesat dan perangai yang buruk. Hal itu dimaksudkan agar hati mudah untuk mendapatkan ilmu, menghafalkannya, mengetahui permasalahan-permasalahan yang rumit dan memahaminya.

Kedua, hendaknya memiliki niat yang baik dalam mencari ilmu, yaitu dengan bermaksud mendapatkan ridho Allah, mengamalkan ilmu, menghidupkan syariah Islam, menerangi hati dan mengindahkannya dan mendekatkan diri kepada Allah. Jangan sampai berniat hanya ingin mendapatkan kepentingan duniawi seperti mendapatkan kepemimpinan, pangkat, dan harta atau menyombongkan diri di hadapan orang atau bahkan agar orang lain hormat.

Ketiga, hendaknya segera mempergunakan masa muda dan umurnya untuk memperoleh ilmu, tanpa terpedaya oleh rayuan “menunda-nunda” dan “berangan-angan panjang”, sebab setiap detik yang terlewatkan dari umur tidak akan tergantikan. Seorang santri hendaknya memutus sebisanya urusan-urusan yang menyibukkan dan menghalang-halangi sempurnanya belajar dan kuatnya kesungguhan dan keseriusan menghasilkan ilmu, karena semua itu merupakan faktor-faktor penghalang mencari ilmu.

Keempat, menerima sandang pangan apa adanya sebab kesabaran akan ke-serba kekurangan hidup, akan mendatangkan ilmu yang luas, kefokusan hati dari angan-angan yang bermacam-macam dan hikmah hikmah yang terpancar dari sumbernya.

Imam As-Syafi’i Ra berkata, tidak akan bahagia orang yang mencari ilmu disertai tinggi hati dan kemewahan hidup. Tetapi yang berbahagia adalah orang yang mencari ilmu disertai rendah hati, kesulitan hidup dan khidmah pada ulama.

Kelima, pandai membagi waktu dan memanfaatkan sisa umur yang paling berharga itu. Waktu yang paling baik untuk hafalan adalah waktu sahur, untuk pendalaman pagi buta, untuk menulis tengah hari, dan untuk belajar dan mengulangi pelajaran waktu malam. Sedangkan tempat yang paling baik untuk menghafal adalah kamar dan tempat-tempat yang jauh dari gangguan. Tidak baik melakukan hafalan di depan tanaman, tumbuhan, sungai dan tempat yang ramai.

Keenam, makan dan minum sedikit. Kenyang hanya akan mencegah ibadah dan bikin badan berat untuk belajar. Di antara manfaat makan sedikit adalah badan sehat dan tercegah dari penyakit yang di akibatkan oleh banyak makan dan minum, seperti ungkapan syair yang artinya:

“Sesungguhnya penyakit yang paling banyak engkau ketahui berasal dari makanan atau minuman.”

Hati dikatakan sehat bila bersih dari kesewenang-wenangan dan kesombongan. Dan tidak seorangpun dari para wali, imam dan ulama pilihan memiliki sifat atau disifati atau dipuji dengan banyak makannya. Yang dipuji banyak makannya adalah binatang yang tidak memiliki akal dan hanya dipersiapkan untuk kerja.

Ketujuh, bersikap wara’ (mejauhi perkara yang syubhat ‘tidak jelas’ halal haramnya) dan berhati-hati dalam segala hal. Memilih barang yang halal seperti makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan semua kebutuhan hidup supaya hatinya terang, dan mudah menerima cahaya ilmu dan kemanfaatannya. Hendaknya seorang santri menggunakan hukum-hukum keringanan (rukhsoh) pada tempatnya, yaitu ketika ada kebutuhan dan sebab yang memperbolehkan. Sesungguhnya Allah senang bila hukum rukhsohnya dilakukan, seperti senangnya Allah bila hukum ‘azimahnya (hukum sebelum muncul ada sebab rukhsoh) dikerjakan.

Kedelapan, meminimalisir penggunaan makanan yang menjadi penyebab bebalnya otak dan lemahnya panca indera seperti buah apel yang asam, buncis dan cuka. Begitu juga dengan makanan yang dapat memperbanyak dahak (balgham) yang memperlambat kinerja otak dan memperberat tubuh seperti susu dan ikan yang berlebihan. Hendaknya seorang santri menjauhi hal-hal yang menyebabkan lupa seperti makan makanan sisa tikus, membaca tulisan di nisan kuburan, masuk di antara dua unta yang beriringan dan membuang kutu hidup-hidup.

Kesembilan, meminimalisir tidur selama tidak berefek bahaya pada kondisi tubuh dan kecerdasaan otak. Tidak menambah jam tidur dalam sehari semalam lebih dari delapan jam. Boleh kurang dari itu, asalkan kondisi tubuh cukup kuat. Tidak masalah mengistirahatkan tubuh, hati, pikiran dan mata bila telah capek dan terasa lemah dengan pergi bersenang-senang ke tempat-tempat rekreasi sekiranya dengan itu kondisi diri dapat kembali (fresh).

Kesepuluh, meninggalkan pergaulan karena hal itu merupakan hal terpenting yang seyogyanya di lakukan pencari ilmu, terutama pergaulan dengan lain jenis dan ketika pergaulan lebih banyak-main-mainnya dan tidak mendewasakan pikiran. Watak manusia itu seperti pencuri ulung (meniru perilaku orang lain dengan cepat) dan efek pergaulan adalah ketersia-siaan umur tanpa guna dan hilang agama bila bergaul dengan orang yang bukan ahli agama. Jika seorang pelajar butuh orang lain yang bisa dia temani, maka hendaknya dia jadi teman yang baik, kuat agamanya, bertaqwa, wara ‘, bersih hatinya, banyak kebaikannya, baik harga dirinya (muru’ah), dan tidak banyak bersengketa: bila teman tersebut lupa dia ingatkan dan bila sudah sadar maka dia tolong.

(Diterjemahkan dari kitab “Adabul ‘Alim wal Muta’ allim” karya KH. M. Asy’ari)