cerpen inspiratif yang di ambil dari kisah nyata

HABIS GELAP TERBITLAH TERANG

Oleh: Said Al-Ahgaff

 

Pagi ini aku tersadar dari malam panjangku. Mendengar lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an, butiran hangat setetes demi setetes keluar dari kelopak mataku. Aku bersyukur sebab bisa berada di antara orang-orang berkarakter mulia dan baik budi akhlaknya. Tak seperti hari itu, masa lalu kelam yang hanya bisa menghanyutkanku pada lembah dosa dan penyesalan.

Mungkin karna aku kurang diperhatikan orang tuaku. Aku diberi kebebasan untuk bermain, entah ke mana dan dengan siapa. Tak jadi perkara bagi keluarga jika aku pulang tengah malam. Aku pikir, mereka sibuk dengan pekerjaan-pekerjaan mereka, hingga tak mengerti apa yang terjadi padaku.

Pagi itu hari Jum’at, ketika sekolahku libur. Aku sebenarnya hidup di tengah-tengah masyarakat Islam yang kuat karakternya. Tapi yang aku rasakan tidak berada di antara mereka, namun di tengah kota mati yang hanya menyisakan aku dan teman-teman yang menghimpitku.

“Id, gimana kalo hari ini kita ke pantai. Mumpung libur, kita refresh lah sekali-kali,” kata Andik yang baru datang di rumahku.

“Bukannya gag mau dik, tapi ibuku tadi minta aku untuk mengantarkannya ke pasar,” kataku.

“Lho, kan masih ada bapakmu. Bilang aja lah id, ada tugas kelompok gitu. Besok mau dikumpulin”

“Ya lah. Gani, Dika sama Sidik udah nungguin kamu ni. Ayolah… katanya temen?” tambah Rozak.

“Yah… iya deh. Tak ngomong ke ibuku dulu ya.”

Rasanya berat meninggalkan ibu. Aku pun bilang kepadanya bahwa aku diajak teman untuk mengerjakan tugas kelompok. Kata ibu, jika memang untuk belajar, oke lah ndak apa-apa. Jadi nanti bapak yang mengantarkannya ke pasar, meski sedang tidak enak badan.

***

“Siap bro, ayo brangkat. Botolnya udah kamu bawa kan?” Andik mengkordinir keberangkatan kami.

“Beres dik, udah ada di tasku,” saut Rozaq.

Jarak rumahku ke pantai mungkin tak jauh amat, sekitar 7 km. Naik sepeda motor ke sana, mungkin hanya sekitar 15 menit sampai. Aku sebenarnya tidak ingin menuruti mereka. Tapi entah, rasanya sulit menolak ajakan mereka. Mungkin karna aku takut kehilangan teman.

Ternyata, tak hanya aku dan teman-temanku yang akan bermain di pantai itu. Sekelompok orang pun ikut berkumpul dengan kami. Mereka adalah teman-teman Andik dari SMA. Sebuah botol dibuka dari tas yang disandang Rozaq. Apa itu? Kupikir berisi air minum mineral. Tapi tidak. Itu weskey, alkohol, new port atau apalah? Baunya menyengat. Tak tahan aku menghirupnya, tapi Andik dan teman-teman melarangku untuk tidak mencobanya.

“Tak apalah, coba sedikiiiiit saja. Allah Maha Pengampun kok id. Dosa besar aja diampuni, apalagi dosa kecil kaya gini. Sedikit aja gag apa-apa buatmu.” Andik mengajakku untuk ikut minum air itu.

Aku pikir, tak ada salahnya jika hanya mencoba. Pun untuk sekali ini saja. Daripada aku disengiti mereka.

“Tu kan…. Enak…. Makanya, jangan takut mencoba id.” Tambah Rozaq meyakinkanku.

Ya Allah, ternyata tidak hanya setetes yang membasahi kerongkonganku. Tapi satu sendok, sampai segelas, dan bergelas-gelas, bahkan mencapai 2 botol. Pikiranku melayang. Aku tak bisa lagi mengontrol badanku. Semua serba membingungkan. Aku merasa bebas, berada di antara teman-teman yang pada saat itu terasa membahagiakan memang.

***

Hari yang mungkin tak akan ku lupakan sampai sekarang. Karena hari itu adalah awal perkenalanku dengan minuman keras, hingga bertahun-tahun aku tersesat dalam dunia yang kelam bersama teman-teman yang hampir setiap harinya diisi dengan pesta minuman keras. Hingga suatu hari kami berpesta minuman keras di sebuah hutan salah satu markas kami. 5 botol minuman telah aku tengguk sampai aku tak sadarkan diri.

“id id,,, kamu gag kenapa-kenapa kan???” tanya Rozaq.

Aku tak mampu menjawab pertanyaan dari Rozad itu, karena memang yang aku rasakan hanya panas,dingin, dan…. entah apa itu???  Yang membuat badanku terasa lemas tak berdaya.

“ya udah bro, ayo kita pulang aja, biar said bisa istirahat,” tambah Andik

***

Malam harinya aku diantarkan oleh Andik hanya sampai di pertigaan jalan dekat rumahku. Aku memintanya hanya sampai situ, karna aku takut suara motor membangunkan bapak ibu yang sedang tidur.

“Ya Allah Id, darimana saja kamu? Keluargamu seharian mencari kamu, tapi tak ada yang tau dimana. Sekarang kamu datang dengan wajah memerah begitu. Cepat ke rumah. Semuanya telah menunggumu.” Kata kang Bidin yang kebetulan berpapasan denganku di jalan.

“Lho lho kang, ada apa to sebenernya? Bukannya biasanya mereka gag mencariku kalo aku pulang malam?” tanyaku heran.

“Sudahlah sana pulang. Nanti kamu akan tau sendiri.”

Benar apa katanya. Baru aku lihat halaman rumahku, ada tenda hitam yang sudah berdiri. Ada acara apa? Siapa yang nikah? Sunatan? Atau… siapa yang meninggal? Waktu itu aku mulai tersadar penuh. Aku berlari menuju rumah. Pintunya masih terbuka. Dari dalam terdengar lantunan ayat-ayat AL-Quran. Mbak Nanda yang berada di dekat pintu pun bergegas memelukku. Wajahnya basah, matanya memerah. Ia memberi tau, bahwa bapak sudah dikebumikan tadi sore. Aku tak percaya. Ia pun menunjukiku motor yang sudah reot. Katanya tadi pagi tabrakan ketika hendak berangkat ke pasar. Hatiku gusar, inginku pergi ke makam tempat bapakku sekarang ditidurkan. Tapi mbak Nanda melarangku. Aku memberontak, tapi orang-orang datang kepadaku menahanku untuk tidak melakukan hal itu.

“Sabar id sabar. Ini sudah ketentuan yang digariskan oleh Gusti Allah. Tenangkan dirimu. Ayahmu sudah tua, mungkin sudah saatnya pulang ke Maha Kuasa. Kamu masih mempunyai ibu. Dia sekarang dirawat di Rumah Sakit. tulang kaki kirinya retak. Ada paman dan bibimu yang menungguinya. Kamu tenang saja. Sekarang masuk ambil wudlu, sucikan dirimu dan doakan bapakmu. Ya..” nasehat dari salah satu tetanggaku padaku.

Mbak Nanda memang baik. Sudah lama aku tak berjumpa dengannya semenjak dia kuliyah di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Perlahan dia menenangkanku dan menemaniku menuju ruang tamu. Di sana ada banyak sanak saudara dan tetangga yang mengirimkan doa untuk bapak.

“Bapak, maafkan aku. Aku merasa punya dosa besar kepadamu. Aku benar-benar anak yang durhaka. Apalagi aku tak sempat meminta maaf kepadamu. Ya Allah, harus dengan apa aku menebus kesalahanku? Seorang kepala keluarga yang bijaksana. Tak pernah aku merasa sakit hati karna hampir tak pernah engkau membentakku, apalagi sampai marah kepadaku. Ya Robb, jika aku punya amal yang bisa menuntunnya ke surga, maka ambillah semua amalku untuknya. Berilah ia tempat terbaik! Jangan biarkan dia berada bersama teman yang setiap hari menemaniku. Ampunilah dosa-dosanya ya Allah. Hamba mohon ampun atas dosa-dosa yang pernah hamba lakaukan kepadanya. Ya Ghofurur rohim.”

***

Hari demi hari berlalu dari peristiwa yang sangat membekas dalam ingatanku. Ibu sudah diperbolehkan pulang. Beruntung, biaya perawatan ditangggung oleh sanak keluarga almarhum bapak dan ibu. Aku dituntut untuk merawat ibuku yang masih harus memakai tongkat untuk berjalan. Mbak Nanda harus kembali ke Surabaya karena akan ujian skripsi. Aku pun menjadi penyokong utama keluarga, karna hanya aku dan ibu yang tinggal di rumah peninggalan bapak.

Aku harus mencari pekerjaan guna memenuhi kebutuhan ibuku. Tapi kata ibu, tak perlu. Tabungan bapak masih cukup, ditambah dengan bantuan dari sanak saudara dan tetangga. Aku pun cukup lega. Pagi hari ku siapkan sarapan untuk ibu. Lalu aku berangkat sekolah. Ibu di rumah ditemani oleh bibi yang kebetulan tinggal berdekatan. Jadi aku bisa sedikit lega karna beban sedikit terkurangi.

Kabar tentang perbuatanku dan Andik cs di pantai pada masa lalu telah diketahui seisi sekolah, termasuk guru dan kepala sekolah. Akibat perbuatan itu, kami terkena konsekuensi, untuk dipondokkan ke pondok pesantren di sekitar lingkungan sekolah. Aku bersedia, tapi kelima temanku memutuskan untuk keluar dari sekolah. Tak jadi masalah buatku. Aku justru merasa senang akan hal itu. Berhubung bapakku telah tiada, aku mendapatkan keringanan dari yayasan untuk biaya pondok dan sekolah. Sungguh jalan rezeki yang tidak dinyana-nyana. Puji syukur untukMu ya Allah, tak semua hal buruk yang aku pikirkan berjalan terus dalam kondisi buruk. Tetapi Engkau Maha Bijak, memberi jalan keluar ketika ada hamba yang sedang kesulitan.

Bulan demi bulan aku habiskan hidup di pondok. Kini ibu sudah sembuh, bisa melakukan kegiatan seperti dulu. Mbak Nanda sudah wisuda, menemani ibu di rumah sembari mengabdi di madrasah selaku tata usaha. Sebenarnya mereka senang dengan keadaanku yang sekarang. Aku punya teman-teman yang baik, dididik dengan hikmah, lebih hikmah dari pada sekedar berada di sekolah. Gus Umam menjadi guru sekaligus kiyai yang sangat aku segani. Apa yang beliau sampaikan untuk para santrinya memberi modal berharga untuk hidup yang lebih baik. Sungguh beruntung sekali aku berada di bawah asuhan dan didikannya. Aku sering jadi abdi dalem, menyirami tanaman-tanaman bu nyai pagi dan sore, membersihkan halaman, dan bersedia membantu ketika diminta pertolongan. Sebuah kondisi hidup yang dari dulu aku dambakan.

Menuju akhir tahun kedua, ujian nasional ada di depan mata. Aku pun harus berkonsentrasi agar bisa lulus dan membahagiakan ibu juga keluarga. Mbak Nanda, aku bertekad untuk meneruskan perjuanganmu di Surabaya. Kuliah dengan beasiswa dari Negara. Ketika liburan, aku bertanya banyak kepada mbak Nanda tentang bagaimana agar aku bisa mendapati nasib yang sama dengannya. Sesuai pengalamannya, ia menyarankanku untuk ikut belajar bareng teman-teman di pondok, diskusi, memperbanyak shalat malam, dan patuh pada saran dan motivasi guru serta ustadz di pondok. “Yang penting, jangan segan bertanya selagi belum bisa,” Nasihat mbak Nanda bagiku untuk terus berusaha.

***

Sampai pada waktu ujian, pengumuman, dan pendaftaran masuk perguruan tinggi negeri, aku seperti mendapat pencerahan-pencerahan di sana. Kerja keras dan usahaku tidak sia-sia. Aku lulus dan diterima di salah satu perguruan tinggi negeri terkemuka di kota pahlawan, Surabaya. Cita-citaku untuk menjadi guru pasti akan terwujud, karena aku diterima di perguruan tinggi terkemuka yang sedang mengembangkan pendidikan karakter untuk jurusan keguruan di sana, aku terima dengan senang hati dan bangga, sebab 3,5 tahun aku akan kuliah dengan dibebaskan biaya. Ya, di Universitas Negeri Surabaya. Namun tak sampai disitu, aku pun mencari tempat tinggal yang lingkungannya mendukung untuk kegiatan belajarku, suasana Islami seperti halnya dipondokku dulu. Atas perintah dari Gus Umam, aku putuskan untuk menetap sekaligus mengabdi di pondok pesantren yang tak jauh dari kampusku. Aku yakin, di tempat itu, Pondok Pesantren Jagad ‘Alimussirry, keberhasilan ada di genggamanku, jika aku mampu mengambil pelajaran demi pelajaran dari kehidupan yang kadang mengancam, tapi tak jarang memberiku pencerahan. Terimakasih Ya Rohman, atas segala rohmat dan fadlol yang Engksu berikan.

 

Surabaya, 22 April 2013

2 pemikiran pada “cerpen inspiratif yang di ambil dari kisah nyata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s